“…Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yg bertakwa”, Kata Grup Nasyid asal negeri jiran, Raihan. Kan’an putra Nabi Nuh As, dan Azar ayah dari Nabi Ibrahim As adalah fakta riil bahwa Manusia harus pandai – pandai mengelola akal pikiran yang telah dikaruniakan Allah padanya. Akal berfungsi untuk menalar mana hal yang baik dan hal sebaliknya, terlepas dari diferensiasi tingkat IQ masing – masing manusia itu sendiri. Tak jauh berbeda dengan seseorang yang menuntut ilmu di Sekolah Agama maupun Perguruan Tinggi Agama, tentu tak berlaku garansi mutlak bahwa mereka akan selalu beretika baik. Memiliki pengetahuan Agama yang lebih, itu sangat mungkin, namun persoalan sikap, perilaku, dan tindakannya tak menjamin bahwa ia akan menjadi pribadi yang berakhlakul karimah. Ironis! Sebab seharusnya ada keniscayaan bahwa pengetahuan Agama yang lebih dari kebanyakan orang, mesti berkorelasi positip terhadap perilaku orang tersebut. Disini terdapat peran Akal dan Habitual Action yang mentradisi pada diri setiap orang. Persoalannya adalah bagaimana kemudian jika Habitual Action seseorang itu buruk dan telah manunggal dalam setiap laku kesehariannya dalam bersikap dan bertindak. Maka, tekad tak kenal kompromi untuk berubah sejatinya adalah keharusan akan berimplikasi jika ditunda.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar