Rabu, Juli 15, 2009

Narasi untuk seorang teman...

Nama yang menggema kemana – mana. Nama yang membumbung tinggi nyaris setinggi awan di langit atau bintang di angkasa. Dan tidak hanya di sudut – sudut sekolah dan kampus atau pun lingkup seluas Kabupaten, namun kian berarak ke luar batas seperti dalam istilah ilmu Matematika (Tak Terhingga). Kian hari pergumulan dalam dunia aktivisme yang terkadang penuh sesak absurditas seakan melenakan diri dalam tugas pokok “tholabul ilmi” yang wajib dan menjadi amanah orang tua. Aktivitas yang sesungguhnya hanya layak menjadi a second change—setelah pendidikan acapkali diserang dengan getaran aneh, sebuah gejolak yang bernama “cinta”. Fall in love melalui kerlingan panca indra bernama “mata” yang mengisyaratkan tentang keanggunan, kecerdasan, dan kedamaian jiwa. Pada suara yang meneguhkan dan menenangkan hati. Pada symbol yang melekat pada diri seorang aktivis akhwat. Mu’minah jamilah (cantik), manis, cerdas, ramah, dan dipenuhi dengan ghirah.
Di setiap beraktivitas jantung seakan berdetak lebih cepat dari biasanya ; sebuah keterpesonaan tiada tara. Diri ini kerapkali mengusir perasaan yang kian hari kian lama menghantui, tetapi diri ini pun seolah menyerah tanpa syarat. Sehingga akhirnya tekad bulat ini untuk ‘menjemput bola’ perasaan cinta seolah membara dan berkobar layaknya api atau mungkin seperti larva yang berpijar d kawah merapi. Ini sebuah fitrah yang sangat layak mendapat waktu dan tempat khusus di hati dan tak boleh disia–siakan sehingga menguap begitu saja. Ini kan sebuah kesempatan, sungguh tak boleh disia-siakan!. Ruang waktu yang seharusnya diluangkan untuk mengerjakan tugas kuliah kemudian mengalami pergeseran dengan aktivitas ber-imaji ria dimana saja dan kapan saja hanya untuk memikirkan si dia.
Luapan – luapan getar cinta akhirnya memberhentikan episode imajinasi menuju realita. Sebuah awalan – awalan pertemuan yang dibingkai dengan aktivitas bermuatan politis atau terkemas dengan nama “silaturrahiim”. Beberapa bulan lalu hanyalah asa tak pasti, kini seolah menjadi realita yang menyemangati diri. Menyemai keputus-asaan dan kehampaan menjadi keniscayaan pasti. Nuansa ketidaksabaran berbuah ghirah dalam membuat nota kesefahaman tentang cinta, komitmen, janji – janji gombal yang mungkin saja belum tentu terjadi esok hari jika tak diwujudkan kini. “Ukhti, bagaimana jika kita kenal mengenal lebih dalam. Insya Allah niat Ane semata – mata hanya mengharap ridha Ilahi, membangun keluarga Islami, dan mendidik anak – anak sholeh yang berbakti”. Kata - kata yang diungkap di sebuah perhentian bus antar kota dalam provinsi, sesaat setelah pulang dari suatu kegiatan besar yang telah ter-setting sedemikian rupa, hanya untuk mendapat kepastian cinta. Ternyata akhir sya’ban yang membahagiakan dan dilengkapi perjumpaan dengan keluarga “si ukhti”, ending-nya harus berakhir di awal ramadhan.
Kini, kurasa sholatku ini tak lagi khusu’. Dzikirku hanya basa – basi dan sempatku kini menjadi sempit menjadi kian terbuang sia – sia. Diri seakan tak bisa bangkit dari ‘keterjalan’ jalan perjuangan, sedangkan kesabaran sedikit semi sedikit mulai menguap dari telah ghirah. Oksigen diri ini telah sedemikian lembek, ekspektasi mujahadah yang tak lagi sekeras batu karang atau baja paling tebal sekalipun. Ternyata keterbuaian akan cinta semu, cinta buta, nyaris membuat akal beku, jasad kaku, dan perasaan jiwa pilu. Alhamdulillah hidayah Ilahi Rabbi telah menyelamatkan diri dari efek cinta semu nan menipu, membuang uang (boros), berbuah dosa, dan pemecah konsentrasi studi. Hidayah datang melalui perantaraan sebuah jargon dalam tulisan buku Dr.Millad Hanna, seorang intelektual Mesir. “ESOK AKAN LEBIH CERAH!”, begitu bunyi jargonnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar