Minggu, Mei 03, 2009

Say No To Politik Praktis!

Pelajar bukanlah anak manis yang hanya sekadar belajar, bermain, dan bersenang - senang. Pelajar punya peran juga dalam menjadi agent of social change, setidaknya di lingkungan dimana ia tinggal. Menjadi lain ketika pelajar harus digiring lewat prosesi rekrutmen terselubung via format baku yang dilegitimasi sebagai pola kaderisasi underbow partai. Partai politik lewat underbow organisasinya mencengkeram segala lini kehidupan pelajar. Pelajar memang harus dikenalkan dengan pendidikan politik. namun tatkala hadir penggiringan sistematis, maka ini tak dapat dibenarkan. Jika terjadi, maka pelajar telah dijadikan obyek.

Ketidak-PERCAYA DIRI-an juga telah membuat para alumni organisasi kader memanfaatkan adik - adiknya yang masih berstatus pengurus atau kader. Opurtunisme yang diawali oleh sebuah tawaran mengelola kegiatan di sebuah sekolah menengah di Lampung, kemudian mengarah pada peng-obyek-an pada seruan, himbauan melalui short message service berantai untuk mendukung satu pasangan calon gubernur 3 september 2008 atau pun seorang calon legislatif di momentum Pemilu legislatif 9 April 2009. ironis! Apa kepentingannya? Wallahu a'lam.

Tak sedikit pula yang masih terbilang kader yang secara tidak ia sadari telah menjerumuskan saudaranya dalam upaya semu pencapaian sebuah kekuasaan. Mereka sendiri tak menyadari betapa dirinya telah dijadikan alat pencapaian kekuasaan. Terasa lebih ironis lagi ketika agama di-politisasi sebagai alat mencapai kekuasaan.

Biarkan masyarakat pelajar berkembang menjadi pribadi cerdas dan mandiri tanpa disodori serangkaian ajakan dan penggiringan menuju politis praktis. Kepada para alumni organisasi, PD sedikit-lah, jangan kotori masa perkembangan kami dengan perilaku nonsens semacam itu. Say No To Politik Praktis!

1 komentar: